Tampilkan postingan dengan label Tokoh Paskibra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Paskibra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Saefullah, Anak Petani Jadi Pejabat Publik



Anak Petani Jadi Pejabat Publik
 
saefullahBagi seorang putra petani yang tinggal di pinggiran kota Jakarta, tentu tidak mudah untuk bisa tampil menjadi yang terbaik. Perlu ketekunan dan perjuangan keras untuk meraih cita-citanya. walapun setiap hari harus menyusuri area persawahan di kawasan Marunda dengan berjalan kaki sepanjang 8 Kilometer, Saefullah, tidak pernah patah semangat. Ia tetap rajin datang ke sekolah dan tetap semangat dalam belajar.
Malah masih lekat dalam ingatan Saefullah, ketika akan berangkat ke sekolah ia pernah terperosok ke sawah. “Kalau sekarang ada Laskar Pelangi, justru saya saat itu hidupnya lebih parah dari yang difilmkan itu. Tapi semua saya lakoni dengan senang hati,” ujar Wakil Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta, seraya mengenang masa lalunya.

Bahkan kala itu, Saefullah mengaku jarang bermain. Sebab, sepulang sekolah Pria Kelahiran Jakarta, tepatnya di Sungai Kendal, Rorotan, Jakarta Utara 11 Februari 1964 itu selalu rajin membantu orangtuanya bercocok tanam di sawah. Jerih payah sebagai anak petani yang serba pas-pasan ia lakoni dengan tabah dan penuh tawakal, sehingga ia berhasil melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah pendidikan guru (SPG) di Jakarta Utara. Usai lulus dari pendidikan SPG tahun 1982, putra pasangan Haji Madali dan Rohani itu dipercaya mengajar sebuah SMP Negeri di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan, sebagai tenaga guru non Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tapi tak berapa lama, ia pindah tugas mengajar di SMP Negeri di bilangan Marunda, Jakarta Utara.

Dari sini, Saefullah mulai menunjukan diri sebagai orang mencintai dunia pendidikan. Penghasilan kecil tidak menjadi alasan bagi Putra Betawi ini untuk bermalas-malasan mengajar. Tekatnya ingin menjadi tenaga pengajar yang baik terus ia pupuk. Bahkan, setelah ia menikahi Rusmiati pada tahun 1985, Saefullah kembali melanjutkan kuliah ke jenjang S1. Ketekukan yang ia jalani bersama istri tercintanya ini-meski masih numpang di rumah orang tua-ternyata membuahkan hasil dengan diraihnya gelar sarjana dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhamadiyah, Jakarta, pada tahun 1988.

Doa istri dan kedua orangtua Saefullah ternyata selalu membawa berkah bagi dirinya. Buktinya, setahun setelah kelulusannya, Saefullah langsung berkesempatan bersaing dengan ribuan calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk menjadi tenaga guru di lingkungan Provinsi DKI Jakarta. Dasar nasib lagi mujur, ia pun diterima.

Sejak ia diterima menjadi PNS di lingkungan Provinsi DKI Jakarta, kredibilitasnya sebagai seorang guru terus dibuktikan. Akhirnya, tak berapa lama menjadi guru, Saefullah dipercaya menjadi Kepala Sekolah di sebuah SMP Negeri di Jakarta Utara. Lantaran prestasinya cukup bagus, ia pun diangkat menjadi Kepala Seksi SMP Suku Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) Jakarta Barat. Kemudian, sejak 10 Juli 2003 hingga 15 Desember 2004, lelaki yang memiliki hobi sepak bola ini dipercaya menjabat sebagai Kepala Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Barat.

Karir yang dibina Saefullah ternyata terus melejit. Buktinya, selepas menjabat sebagai orang nomor satu di jajaran Suku Dinas Dikdas Jakarta Barat, Saefullah kembali dipercaya masuk dalam lingkungan Dinas Pendidikan Dasar menjadi Kepala Sub Dinas SMP Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta, mulai tanggal 16 Desember 2004. Setelah empat tahun menjabat kepala seksi, pada bulan April 2008, ia melejit dipercaya menjadi Wakil Kepala Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta hingga 30 Desember 2008. Dan terhitung sejak 31 Desember 2008 Saefullah menjabat Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda

Meski selama berkarir ia telah banyak makan asam garam dunia pendidikan, namun Saefullah tetap bersemangat mendalami dunia pendidikan di Provinsi DKI Jakarta. Buktinya, ia tetap melanjutkan pendidikanya hingga ke jenjang doktoral (S3). Dalam disertasinya, ia menyebutkan, pengorganisasian berpengaruh terhadap signifikan terhadap kualiatas pelayanan pendidikan dasar pada SMPN di Provinsi DKI Jakarta.  [sourch info : 
http://www.beritajakarta.com/2008/id/Profil_Detail.asp?ID=126 ]

Idik Sulaeman

H. Idik Sulaeman Nataatmadja, AT (lahir di Kuningan, Jawa Barat, 20 Juli 1933), atau biasa dipanggil dengan Idik Sulaeman adalah pencetus nama PASKIBRAKA. Adik didik Husein Mutahar di kepanduan ini jugalah yang menyempurnakan seluruh kelengkapan Paskibraka sebagai sebuah Korps, mulai dari sistem/metode pelatihan, silabus, atribut dan kelengkapannya.
Idik menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya, sampai tamat SMP di Purwakarta dan pindah ke Jakarta saat masuk SMA. Sejak kecil, jiwa seni sudah terlihat dalam dirinya. Tak heran bila setamat SMA Idik memilih seni rupa sebagai pilihan profesinya dengan menamatkan pendidikan sebagai sarjana seni rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung ITB pada 9 April 1960.
Idik Sulaeman memulai kariernya di Balai Penelitian Tekstil (1960-1964). Pada 1 Februari 1965 ia diangkat menjadi Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan yang saat itu dijabat Mayjen TNI dr. Azis Saleh.
Dunia seni dan tekstil harus ditinggalkan ketika Idik pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan pada 1 Desember 1967. Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka.
Bersama dengan para pembina lainnya, Idik membantu Mutahar menyempurnakan konsep pembinaan Paskibraka. Pasukan yang pada tahun 1966 dan 1967 diberi nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, pada tahun 1973 mendapat nama baru yang dilontarkan oleh Idik. Nama itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA.
Selain memberi nama, Idik juga menyempurnakan wujud Paskibraka dengan menciptakan Seragam Paskibraka, Lambang Korps, Lambang Anggota, serta Tanda Pengukuhan berupa Lencana Merah-Putih Garuda (MPG) dan Kendit Kecakapan.
Pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud). Pada 9 Maret 1977, ia mencapai posisi puncak di Ditbinmud setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR). Tiga tahun penuh ia benar-benar menjadi ”komandan” dalam latihan Paskibraka, yakni Paskibraka 1977, 1978 dan 1979.
Pada 24 November 1979, Idik ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Dikdasmen) dan menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan sampai 15 November 1983. Selama empat tahun itu, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan pengalaman kerja di bidang tekstil, Idik mencatat sejarah dalam penciptaan seragam sekolah yang kita kenal sampai sekarang: SD putih-merah, SMP putih-biru dan SMA putih-abu-abu, lengkap dengan lambang sekolah dasar (SD) dan OSIS yang kini selalu melekat di saku kiri seragam sekolah.
Idik menikah dengan Aisah Martalogawa pada 29 Oktober 1961, Idik dikaruniai tiga anak, yakni Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat), dan Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar). Dari ketiganya, Idik memiliki enam orang cucu, masing-masing 3 cucu laki-laki dan 3 cucu perempuan.